Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Dua hal di atas merupakan dua hal yang dapat saling melengkapi namun suatu saat dapat saling bertentangan ketika dipandang dengan sudut pandang/persepsi yang keliru. Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba sedikit memaparkan bagaimanakah tinjauan yang benar dalam memandang dan menanggapi dua hal di atas dari sudut pandang syari’at islam.

Hal yang pertama, yakni ngaji atau yang bahasa bakunya adalah menuntut ilmu agama merupakan suatu amalan yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan bagi para pelakunya jalan menuju tempat yang diidam-idamkan oleh seluruh manusia yang beriman yaitu jalan menuju surga sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lain-lain :


« وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ »


“Barang siapa yang melewati suatu jalan untuk menuntut ilmu (agama), Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu dari rumah-rumah Allah (yang di sana) mereka membaca kitab Allah dan saling mengajarkan diantara mereka kecuali Allah akan turunkan bagi mereka ketenangan dan Allah limpahkan bagi mereka rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh malaikat serta Allah menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat yang berada di sisiNya.” (HR. Muslim no. 2699 dan Ibnu Majah no. 223).

Begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhory dan Muslim :


« مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ »

“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhory no. 71, 3116, 7312 dan Muslim no. 1037).

Lihatlah saudaraku sesama muslim bahwa begitu agungnya keutamaan yang akan didapatkan oleh para pencari ilmu agama yang tidak didapatkan oleh para pencari ilmu dunia.

Namun perlu diketahui bahwasanya hukum mencari ilmu agama adalah fardhu kifayah dimana apabila telah ada orang yang sudah menunaikannya maka hukumnya menjadi sunnah bagi yang lainnya. Akan tetapi terkadang hukum mencari ilmu agama dapat berubah menjadi fardhu ‘ain/wajib bagi setiap orang manakala seseorang tidak akan dapat beribadah dan bermu’amalah dengan benar kecuali dengan mengetahui bagaimana rincian cara beribadah dan bermua’alah yang akan dia kerjakan tersebut. Semisal ilmu tentang tauhid, sholat, hukum-hukum dalam jual beli (jika ia berprofesi sebagai pedagang) atau yang lainnya. Namun untuk selain keadaan yang semisal di atas maka hukumnya tetap fardhu kifayah.

Tidak diragukan lagi bahwasanya menuntut ilmu agama termasuk amalan yang paling afdhol/utama bahkan merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah terutama pada zaman kita dimana kebid’ahan mulai tampak dan menyebar luas di kalangan masyarakat islam, kebodohan akan syari’at mulai merata, orang-orang mencari fatwa kepada orang yang tidak berilmu dan perdebatan telah menyebar tentang masalah-masalah yang sudah jelas bagi orang yang berilmu. Maka pada ketiga keadaan ini mengharuskan bagi para pemuda untuk bersungguh-sungguh dalam mancari ilmu agama.

Adapun menuntut ilmu selain ilmu agama dalam konteks kita mahasiswa yaitu kuliah maka hal ini memiliki faidah namun padanya ada dua batasan yang harus diperhatikan yaitu, jika ilmu tersebut dapat membantu manusia dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan membela agama Allah subhanahu wa ta’ala serta bermanfaat bagi hamba-hamba Allah maka untuk keadaan yang demikian ilmu itu merupakan ilmu yang baik dan mashlahat. Bahkan terkadang mempelajari ilmu semacam ini dapat berubah menjadi wajib pada sebagian keadaan jika keadaannya termasuk dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :


 وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ 


“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat” (Al Anfal : 60)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa ‘kekuatan’ yang dimaksudkan dalam ayat ini mencakup kekuatan jiwa yang tidak tampak dan kekuatan militer yang tampak. Yang mana jika kita perhatikan kekuatan militer ini akan didapat jika kaum muslimin mempelajarinya, demikian seterusnya.

Sehingga sudah selayaknya bagi kita mahasiswa untuk bersemangat dalam menuntut ilmu agama sembari menuntut ilmu di dunia perkuliahan dan kedua hal ini akan dapat kita raih jika tujuan kita benar yakni menghilangkan kebodohan pada diri sendiri dan orang lain tentunya dengan mengaharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala yang hal ini merupakan salah satu bentuk menolong agama Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :


 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ 

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad : 7).

Satu hal yang harus kita ingat bahwa ini adalah janji dari Allah subhanahu wa ta’ala Dzat yang paling benar janjinya. Semoga pembahasan yang singkat dan penuh keterbatasan ini dapat bermanfaat bagi kita untuk di amalkan, Amin.

Disusun oleh aditya budiman
19 oktober 2008.

Disarikan oleh penulis dari Syarh Al Arba’in An Nawawiyah cet Mu’asasah Risalah Beirut, Kitabul Ilmi cet Maktabah Nur Al Huda Kairo, Majalisy Syahri Romadhon cet. Darul Aqidah Kairo yang semuanya merupakan karangan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah