Anemia selama kehamilan (konsentrasi Hb <11 g/dL) tidak hanya menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara berkembang, tetapi juga merupakan masalah yang signifikan di negara maju. Masalah anemia selama kehamilan ini belum juga mengalami perbaikan. Lebih dari setengah wanita hamil dan anak-anak di bawah usia 5 tahun menderita anemia. WHO (1992) melaporkan bahwa 55-60% wanita hamil di negara berkembang menderita anemia, sedangkan di negara maju hanya sekitar 18%. Dari perbandingan ini terbukti bahwa problem anemia selama kehamilan di negara berkembang termasuk tinggi. Bahkan, wanita di negara berkembang berkontribusi pada 95% anemia selama kehamilan di seluruh dunia.

Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar antara 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih dari 50%. Brabin et al. (2001) menyatakan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai angka 74%. Penelitian lain menemukan prevalensi yang mencapai angka 85,2% di Kabupaten Jayapura (Susanti, 2001). Angka-angka ini lebih besar dari kriteria WHO (≥40%) untuk menggolongkan suatu penyakit ke dalam masalah kesehatan utama dalam sebuah populasi.

Terdapat banyak faktor yang berhubungan dengan anemia selama kehamilan. Malaria dilaporkan sebagai penyebab utama, meskipun banyak sekali faktor penyebab anemia selama kehamilan. Anemia selama kehamilan dapat timbul akibat gizi buruk baik sebelum maupun selama hamil; sosial-ekonomi, pendidikan, dan pengetahuan yang rendah akibat kurangnya informasi; usia ibu hamil; kunjungan antenatal; dan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi. Prevalensi anemia selama kehamilan meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan serta berhubungan dengan tingkat pendidikan dan status sosioekonomi yang rendah.

Anemia nutrisional (anemia karena kekurangan gizi) adalah jenis anemia yang paling banyak terjadi. Defisiensi besi adalah penyebab terbanyak anemia yang terkait dengan nutrisi. Anemia defisiensi besi bertanggung jawab pada kurang lebih 95% anemia selama kehamilan, yang menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan terhadap besi selama kehamilan.

Defisiensi mikronutrien yang multipel juga berkontribusi terhadap anemia dalam kehamilan. Anemia nutrisional juga dapat terjadi karena kekurangan asam folat atau vitamin B12. Anemia lainnya yang terjadi selama kehamilan adalah anemia karena hemoglobinopati, anemia aplastik, anemia yang diinduksi oleh obat, kelainan sel darah merah kongenital (thalassemia α, defisiensi glukosa-6-fosfat) serta anemia karena kekurangan vitamin A.

Anemia dapat berperan sebagai faktor pokok yang menyebabkan seorang wanita memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal karena salah satu dari lima penyebab utama kematian ibu hamil (kematian maternal), yaitu perdarahan, sepsis, eklampsia, aborsi, dan partus macet (obstructed labor). Sehingga anemia dapat bertanggung jawab pada 17-46% kasus kematian maternal. Penelitian Chi et al. (1981) menunjukkan bahwa angka kematian ibu sebesar 70% pada ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang tidak menderita anemia. Oleh karena itu, salah satu komponen kunci dari safe motherhood (kesehatan ibu hamil) adalah pemberantasan anemia selama kehamilan.

Selama kehamilan, anemia berat (Hb <7 g/dL) dapat menyebabkan perubahan sirkulasi yang berhubungan dengan peningkatan risiko gagal jantung. Selama persalinan, wanita dengan anemia berat kurang mampu menoleransi kehilangan darah, meskipun hanya dalam jumlah moderat, sehingga memiliki risiko lebih tinggi untuk menerima transfusi darah selama persalinan. Anemia selama persalinan juga menyebabkan lemahnya kontraksi uterus, tenaga mengejan lemah, dan perdarahan post partum (perdarahan setelah melahirkan) akibat atonia uteri (kontraksi uterus yang lemah). Padahal, perdarahan adalah penyebab terbanyak kematian maternal di Indonesia.

Bagi janin, anemia berat yang diderita ibu hamil dapat menyebabkan IUGR (intra uterine growth retardation/gangguan pertumbuhan janin), abortus, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Hal ini disebabkan karena anemia selama kehamilan akan menyebabkan berkurangnya transpor oksigen ke dalam janin yang sedang berkembang sehingga akan menimbulkan efek yang merugikan pada pertumbuhan janin.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa pencegahan anemia selama kehamilan hendaknya menjadi salah satu prioritas utama dalam program perawatan antenatal. Informasi dan penyuluhan kepada ibu hamil tentang anemia selama kehamilan juga hendaknya menjadi salah satu program promosi kesehatan yang terus-menerus disampaikan di masyarakat.