Berpegang teguh dengan agama Islam

Memegang teguh agama Islam dan tidak murtad darinya merupakan sebab Allah mencintai hamba. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…” (QS. Al-Maa’idah : 54).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Bagian dari konsekuensi kecintaan kepada Allah adalah mengenal-Nya ta’ala dan memperbanyak mengingat/berdzikir kepada-Nya. Karena sekedar cinta yang tidak diiringi dengan pemahaman tentang Allah maka hal itu sangat kurang, bahkan cinta seperti itu tidak ada meskipun pengakuannya ada. Barangsiapa yang cinta kepada Allah maka dia akan memperbanyak dzikir kepada-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 214).

Mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan dari-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengikuti rasul, maka dia bukanlah orang yang benar-benar mencintai Allah ta’ala. Karena kecintaannya kepada Allah mengharuskan dia untuk mengikuti rasul-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 112). Bahkan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa mengikuti rasul merupakan sebab paling besar untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, beliau berdalil dengan ayat di atas (lihat Syarh Al-Arbain, hal. 323).

Menunaikan kewajiban dan melengkapinya dengan amalan sunnah

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman, “…Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan apabila hamba-Ku senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sampai akhirnya Aku pun mencintai-Nya…” (HR. Bukhari).

Berdasarkan hadits di atas Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa banyak melakukan ibadah sunnah merupakan sebab mendapatkan kecintaan Allah ‘azza wa jalla (lihat Syarh Al-Arba’in, hal. 380). Tentu saja hal itu apabila ibadah-ibadah yang wajib sudah ditunaikan. Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Kecintaan kepada Allah ta’ala mengharuskan untuk mencintai ketaatan kepada-Nya. Karena Allah mencintai hamba-Nya taat kepada-Nya. Seorang yang mencintai sosok tertentu maka dia akan mencintai apa saja yang dicintai oleh kekasihnya, dan itu pasti.” (Fath Al-Majid, hal. 312).

Zuhud di dunia

Zuhud di dunia juga termasuk sebab Allah akan mencintai seorang hamba. Sahl bin Sa’id As-Sa’idi radhiyallahu’anhu meriwayatkan, ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan, “Wahai Rasulullah! Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku lakukan maka Allah akan mencintaiku dan orang-orang juga mencintaiku.” Maka beliau menjawab, “Zuhudlah engkau di dunia, niscaya Allah mencintaimu dan. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, niscaya orang-orang pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Zuhud di dunia itu adalah dengan membencinya serta tidak menikmatinya kecuali yang bermanfaat baginya di akhirat. Zuhud lebih tinggi daripada wara’. Karena hakikat wara’ adalah meninggalkan perkara dunia yang mendatangkan bahaya, sedangkan zuhud adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat nanti di akhirat…” (Syarh Al-Arba’in, hal. 318).

Cinta dan benci karena Allah

Cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan kecintaan Allah ta’ala. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya pertolongan dan kecintaan Allah hanya akan dicapai dengan sebab itu. Seorang hamba tidak akan dapat merasakan (manisnya) iman, meskipun banyak melakukan shalat, dan sering berpuasa, sampai dirinya menjadi seperti itu. Sungguh, kebanyakan persaudaraan yang dijalin di antara manusia dibangun di atas kepentingan dunia, maka hal itu sama sekali tidak akan bisa membuahkan apa-apa bagi pelakunya.” (HR. Ibnu Al-Mubarak, dalam Az-Zuhd [353] sebagaimana disebutkan dalam Fath Al-Majid, hal. 314).[Ari Wahyudi]