Para pembaca yang semoga dirahmati Allah , sangat banyak sekali perubahan-perubahan sikap yang dialami seorang pemuda maupun pemudi saat ia mulai beranjak duduk dalam bangku dunia perkuliahan. Hal ini mungkin disebabkan seiring berubahnya lingkungan dan bertambahnya umur. Namun pada kesempatan kali ini kita akan coba ulas sedikit mengenai perubahan sikap seorang anak kepada kedua orang tuanya terutama kepada ibu dan bagaimana sikap yang benar.

Tak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari seorang mahasiswa dapat menghabiskan waktu untuk berbicara dengan seseorang melalui telepon dalam waktu yang sangat lama bahkan bisa berjam-jam, ada yang terlihat tersenyum sipu ketika menerima telepon, ada yang tertawa terpingkal-pingkal dan masih banyak fenomena lain. Namun kiranya jika kita amati lebih lama ternyata yang mereka telepon tersebut adalah pacarnya, teman sesama SMA dulu atau yang lain, yang jelas kebanyakan dari yang sering mereka telepon bukanlah orang tua, saudara ataupun kerabat. Hal yang aneh lagi adalah ketika mereka menerima atau menelepon orang tuanya pemandangan yang terlihat sangat kontradiktif dengan sikap di atas, yang terihat adalah sikap yang kaku, tergesa-gesa untuk mengakhiri pembicaran karena takut pulsa yang dia miliki habis, malu dilihat teman dan lain-lain yang merupakan ekspesi-ekspresi yang sangat jauh berbeda jika berbicara dengan selain orang tua dan kerabat bahkan tidak jarang ditemui seorang anak yang menelepon orang tuanya hanya jika perlu uang saja Naudzubillahi min dzalik. Padahal bukankah orang tua dan kerabat yang lebih berhak untuk diperlakukan dengan baik, mendapatkan kehangatan dalam berinteraksi?? Jika kita tilik lebih dalam lagi sungguh islam adalah agama yang mulia, islam menempatkan kedudukan orang tua dan kerabat dalam kedudukan yang sangat tinggi. Jika kita tilik dan teliti lebih dalam lain maka islam begitu memuliakan kedudukan orang tua. Berikut penulis mencoba untuk menukilkan beberapa ayat Al Qur’an dan hadits Nabi ` yang berkaitan dengan pembahasan kita.

Firman Allah  dalam surat Al Isro’ ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uf” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. ( Al Isro’ : 23 ).

Demikian juga dalam firman Allah  dalam surat Al An’am ayat 151 :

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ 

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. ( Al An’am : 151 ).

Juga firman Allah  dalam surat Al Ankabut ayat 8 :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا 

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.”( Al Ankabut : 8)

Salah seorang ahli tafsir terkemuka yang karya tersebar di penjuru negri islam yaitu Ibnu Katsir t berkata berkaitan dengan surat al isro’ 23 di atas : “ Yang dimaksud dengan kata uf( أُفٍّ )adalah janganlah engkau katakan kepada mereka perkataan yang menyakitkan bahkan menggerutu/cih sekalipun yang merupakan perkataan yang menyakitkan yang tingkatannya paling rendah” lihatlah saudara saudaraku betapa besarnya hak orang tua sampai Beliau t mengakatakan sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Husain bin Al Audah Al Awayisyah Hafidzahulloh dalam kitab Syarh Shohih Adabul Mufrod :
“Allah  memerintahkan hamba-hambanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya setelah perintah untuk bertauhid kepadanya, maka sesungguhnya kedua orang tua merupakan sebab terlahirnya manusia dan bagi mereka berdualah kita seharusnya berbuat/bemuamalat yang paling baik. (karena, pent.) ayahlah yang mencari nafkah dan ibulah yang memberikan kasih sayangnya kepada kita”. Karenanya sungguh sangat layaklah bagi kita untuk selalu berbuat baik kepada mereka baik tutur kata maupun sikap. Adapun dari hadits-hadits Nabi ` terdapat banyak sekali yang menunjukkan keistimewaan orang tua terutama ibu diantaranya :


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ
« ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »


Dari Sahabat Abu Huroiroh  Beliau Berkata : Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah ` kemudian bertanya : “Wahai Rasulullah siapakah yang kuperlakukan dengan baik (dijadikan sahabat, pent.)?” Beliau menjawab : “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi : ”Kemudian siapa ?” Beliau menjawab : “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi : ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab : “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi :”Kemudian siapa ?” Beliau menjawab : “Ayahmu”

Demikian juga sabda Beliau ` :


عَن بَهزِ بنِ حَكِيمٍ عَن أبِيهِ عَن جدِّهِ قُلتُ : يَا رَسُولَ اللهِ مَن أَبَرُّ ؟قَالَ : ( أُمُّكَ)

قُلتُ مَن أَبَرُّ؟قَالَ😦 أُمُّكَ) قُلتُ مَن أَبَرُّ؟ قَالَ: (أُمُّكَ )
قُلتُ مَن أَبَرُّ ؟ قَالَ : (أَباكَ ثُمَّ الأَقْرَبُ فَالأَقْرَبُ )

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, Saya bertanya : Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik ? Beliau ` menjawab : “Ibumu”. Dia bertanya lagi kemudian siapa ? Beliau ` menjawab : “Ibumu”. Dia bertanya lagi kemudian siapa ? Beliau ` menjawab : “ Ayahmu kemudian kerabatmu yang terdekat kemudian yang terdekat lagi.”

Maka lihatlah saudaraku sesama muslim kedua orang tua adalah orang yang paling berhak untuk kita perlakukan dengan baik. Sangat jelas bagi kita setelah membaca kedua hadits di atas bahwa ibu disebutkan Rasulullah ` tiga kali baru kemudian ayah dan karib kerabat dan tidaklah disebutkan pacar atau yang lainnya, ditambah lagi pacaran itu sendiri haram dalam islam6 hal ini menunjukkan bahwa betapa besarnya hak mereka dalam islam atas seorang anak. Kemudian setelah kita mengetahui betapa besarnya hak orang tua maka kita tak salah untuk mengetahui pahala atau keutamaan bagi orang-orang yang berbakti pada kedua orang tua agar kita berusaha dengan keras untuk mewujudkannya, diantaranya adalah hadits Nabi ` dari sahabat Abu Darda’ ,


أَنَّ رَجُلاً أَتَاهُ فَقَالَ إِنَّ لِى امْرَأَةً وَإِنَّ أُمِّى تَأْمُرُنِى بِطَلاَقِهَا. قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ ».


Seorang laki-laki mendatanginya kemudian laki-laki itu berkata : “ Sesungguhnya aku memiliki seorang istri dan ibuku memintaku/memerintahkanku untuk menceraikannya”. Kemudian Abu Darda’ mengatakan : “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ` bersabda : “ Orang tua adalah pintu tengahnya surga, maka terserah engkau apakah engkau akan sia-siakan pintu itu atau menjaganya”.

Sebagai penutup marilah kita ingat sebuah kaidah yang ma’ruf dalam agama islam yaitu : “ Al Jaza’ min Jinsil ‘Amal” ( balasan dari suatu perbuatan adalah perbuatan yang semisal ) banyak-banyaklah kita mengingat kebaikan orang tua kepada kita yang mungkin tidak bisa untuk kita bayar lunas. Oleh karenanya jika kita ingin di hari tua kita nanti kelak kita ingin anak kita berbakti kepada kita maka hendaklah kita berusaha keras agar kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi anak yang pandai mensyukuri nikmat Allah , yang salah satunya adalah nikmat orang tua. Sebagaimana do’a Nabi Sulaiman r :


 رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ 

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. ( An Naml : 19 ).

Semoga artikel yang singkat ini dapat bermanfaat dan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Amin.

>Aditya Budiman
Pogung Kidul, menjelang Isya’

Sabtu, 8 November 2008.

Sumber Rujukan :

Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawy Hafidzahulloh hal. 635/II terbitan Dar Ibnu Rojab Kairo cetakan pertama.

Syarh Shohih Adabul Mufrod oleh Syaikh Husain bin Al Audah Al Awayisyah Hafidzahulloh hal. 9/I terbitan Maktabah Islamiyah Kairo cetakan kedua.

Fiqh Ta’ammul Ma’al Walidain Syaikh Musthofa Al Adawy Hafidzahulloh hal. 1-12 terbitan Maktabah Makkah cetakan pertama.