Islam merupakan agama yang sempurna. Islam dibangun di atas keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Islam menyeru kepada pemeluknya untuk melepaskan segala ketergantungan hati kepada selain Allah ta’ala. Islam juga memerintahkan umat manusia untuk menegakkan keadilan dan memberantas segala praktek kezaliman. Islam mengajarkan kepada orang-orang yang tertimpa musibah untuk bersabar dan meyakini takdir Allah yang Maha bijaksana. Islam menuntunkan kepada orang-orang yang berharta untuk menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Islam mendidik umatnya untuk senantiasa bertaubat dan meminta ampun atas segala kesalahan dan dosa mereka. Inilah ajaran Islam yang begitu indah dan mampu melembutkan hati orang-orang Quraisy yang berperangai keras dan jauh dari ilmu serta cahaya hidayah hingga akhirnya bisa melapangkan dada mereka untuk menerima Islam dengan kedua belah tangannya.

Saudaraku, sobat muda yang semoga mendapatkan pancaran cahaya ilmu dari Kitab-Nya, sekarang ini kita hidup di masa kebenaran telah menjadi barang aneh yang diejek dan disingkirkan oleh banyak manusia. Para pembela kebenaran dituduh sebagai pemecah belah umat dan perusak jalinan ukhuwah sesama umat Islam. Sebaliknya, para Ruwaibidhah -yaitu orang bodoh namun lancang berbicara tentang urusan manusia- justru dieluk-elukkan dan digelari sebagai para pejuang keadilan dan jawara-jawara Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Al-Ajurri mengatakan di dalam kitabnya Shifatul Ghuraba’ minal mukminin (hal. 27), “Dan akan kembali menjadi asing, maknanya adalah –wallahu a’lam– bahwa hawa nafsu dan penyimpangan telah menjamur sehingga membuat banyak orang tersesat dan tinggallah para penegak kebenaran yaitu mereka yang tetap tegak di atas syari’at Islam dalam keadaan terasing di antara manusia, tidakkah anda mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu’. Maka beliau ditanya tentang golongan yang selamat itu? Beliau menjawab, ‘Yaitu orang-orang yang beragama sebagaimana aku dan para sahabatku pada masa ini’.” >(Dinukil oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 55-56).

Jadi orang-orang yang asing itu adalah para penegak kebenaran. Orang-orang yang tetap konsisten dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Memang terkadang untuk menjadi pengikut setia kebenaran seorang pemuda harus rela diejek dan dicemooh oleh orang lain. Tidakkah kita ingat bagaimana ketika awal mula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan dakwah tauhidnya yang menggegerkan dunia Arab ketika itu? Beliau dihina, dicaci, dituduh penyair gila serta tukang dusta, bahkan penyihir. Belum terhenti di situ bahkan nyawa beliau menjadi incaran para algojo musyrikin jahiliyah yang melakukan makar untuk menghabisi nyawanya. Beliau tidak lantas menjadi surut dan mundur ke belakang gara-gara tekanan dan hambatan dakwah yang merintangi perjalanan dakwahnya. Beliau diberikan keetegaran dan kekokohan aqidah oleh Allah ta’ala. Allah berfirman tentang hal ini ,

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً

“Kalaulah bukan karena Kami yang memberikan keteguhan kepadamu (hai Muhammad) niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit demi sedikit untuk mengikuti kemauan mereka.” (QS. Al-Israa’ : 74).

Keteguhan semacam inilah yang dibutuhkan oleh para pemuda Islam penerus perjuangan Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, serta Khalid bin Walid. Kesabaran seperti itulah yang kini dibutuhkan oleh para muslimah pemegang bara api yang ingin menjaga kehormatan dan kesucian mereka dari tipu daya musuh-musuh Islam yang senantiasa mengincar kelemahan mereka.

Sobat muda, semoga Allah meneguhkan keimanan kita kepada-Nya, kenikmatan Islam yang telah kita rasakan bersama ini merupakan karunia tiada tara yang harus kita syukuri. Janganlah kita menjadi seperti anak-anak berandalan yang melempari Nabi tatkala pulang dari Tha’if hingga mengucurkan darah. Janganlah kita seperti pemuda-pemuda umat Nabi Luth yang membangkang kepada Nabi-Nya dan menodai fitrah yang Allah berikan kepada mereka. Janganlah kita menjadi remaja-remaja nakal yang sok membela agama namun tidak menghormati para ulama sebagaimana halnya kaum Khawarij yang disebut Nabi sebagai anjing-anjing neraka. Hendaknya kita menjadi pemuda yang pandai-pandai bersyukur kepada Allah dengan kenikmatan Islam, kenikmatan sehat dan waktu luang yang Allah curahkan kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang banyak orang tertipu karenanya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma).

Jadilah seperti Nabi Yusuf yang tidak hanyut oleh rayuan keji wanita cantik dan berkedudukan yang mengajaknya untuk berzina. Jadilah seperti pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dengan mantap serta tak mau larut dalam kesesatan kaumnya. Jadilah seperti Ibnu Abbas yang rajin menimba ilmu agama di kala muda. Jadilah seperti Bilal bin Rabah yang rela ditindih batu di atas teriknya padang pasir demi mempertahankan aqidahnya. Jadilah seperti Abdullah putra Abdullah bin Ubay bin Salul yang tetap tegar memeluk Islam tanpa tergoda sedikitpun oleh kemunafikan ayahnya. Jadilah seperti Abu Bakar yang tetap membela dan membenarkan sabda Nabi tatkala sebagian orang-orang Arab murtad mendengar kabar naiknya Nabi ke atas langit menghadap Rabbnya. Jadilah seperti mereka para sahabat Nabi yang mulia dan mendapatkan pengormatan dari Allah Sang penguasa jagad raya dengan firman-Nya,


وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ


“Orang-orang yang pertama-tama dan terdahulu (membela Islam) yaitu Muhajirin dan Anshar, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At-Taubah : 100).

Saksikanlah mereka generasi terbaik umat ini yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara yang benar dalam mensyukuri nikmat Islam. Mereka pelajari Islam dari akar-akarnya. Mereka serap cahaya hidayah dari Al-Kitab dan As-Sunnah dengan dada dan pikiran yang terbuka. Mereka juga memohon kepada Allah agar ditambahkan hidayah dan ilmu kepada hati mereka. Mereka memenuhi hati mereka dengan kecintaan yang bukan main besarnya kepada Islam dan ajarannya. Mereka tak segan-segan untuk bangkit mengangkat senjata demi menjaga keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ancaman musuh-musuhnya. Maka pada jaman sekarang ini kita juga memerlukan para pemuda yang membela Sunnahnya dari hujatan dan rongrongan musuh-musuh agama dari kalangan kafir, munafik dan ahli bid’ah dengan beragam topengnya.

Allah berfirman, “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah : 152). Allah juga berfirman, “Demi masa, sesungguhnya semua orang berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3).

Sobat muda, semoga Allah menambahkan ilmu kepada kita, kejayaan Islam yang kita dambakan tidak akan tercapai dengan mengutamakan kesenangan dunia yang sementara di atas kebahagiaan akhirat yang abadi. Sesungguhnya kemuliaan dan ketentraman yang sejati akan diraih jika para pemuda Islam membersihkan jiwa mereka dari segala kotoran kesyirikan dan mengisi hati dan amalannya dengan keimanan. Allah berfirman tentang golongan manusia yang akan mendapatkan hidayah dan keamanan, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) maka mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’aam : 82).

Inilah saatnya para pemuda Islam calon pemimpin masa depan membekali diri dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah dengan panduan para ulama Rabbani. Kita berharap bisa tergolong orang yang dikehendaki baik oleh-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu). Inilah saatnya para pemudi muslimah calon pendidik generasi penerus untuk membina hati dan perilaku agar dapat melanjutkan perjuangan ‘Aisyah yang mampu mengungguli banyak sahabat lelaki dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Inilah saatnya, bendera pertempuran melawan syubhat dan syahwat dikibarkan. Semoga Allah memberikan kepada kita pertolongan yang dijanjikan-Nya. Allah berfirman, “Dan sungguh Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Dan sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al-Hajj : 40).

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

[Abu Mushlih Ari Wahyudi]